4.1.13

komunikasi

copas tulisan dari seorang rekan senior yang hasil coretan penanya bunda kagumi...

 
Komunikasi Itu Bukan Cuma



Pendahuluan.

Komunikasi itu penting. Komunikasi itu bukan hal yang bisa diremehkan. Komunikasi itu bukan cuma.

Komunikasi Itu Bukan Cuma.

Tiba-tiba Bu Warih beranjak meninggalkanku. Aku tetap duduk di kursiku di dekat meja bundar di ruang tengah kami. Awalnya, aku cuma memandangnya pergi. Tetapi kemudian aku memutuskan untuk mengikutinya.

Dia menuju dapur. Aku juga menuju dapur. Dia mengambil piring. Aku juga mengambil piring. Dia menyendokkan sendok sayur untuk mengambil sayur. Aku melangkah ke Magic Jar untuk menyendok nasi. Ternyata Magic Jar kami kosong. Aku berbalik. Aku hafal tempat nasi dingin itu berada. Aku geser pintu kaca lemari makan, aku ambil nasi sedikit lalu menutupnya kembali. Bu Warih sudah ada di meja makan, ketika aku menyendok sayur. Sayur sawi dengan sedikit kuah dan butiran bakso. Aku ambil secukupnya lalu aku menyusulnya ke meja makan. Dia menyuapkan ke mulutnya, aku juga menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Dia makan dan aku makan juga.

Sudah.

Lalu aku bertanya kepadanya, ‘Can, kenapa begini?’. Dia terlihat berpikir. ‘Kenapa kamu meninggalkan aku sendiri tanpa kata-kata? Kenapa kamu hendak makan tanpa berkata sedikitpun kepadaku? Kenapa mengambil sayur sendir tanpa kata? Mengapa tak ada nasi panas tanpa kata? Mengapa menuju meja makan tanpa kata?. Dia tampak kaget.

‘Can, komunikasi itu bukan cuma. Dengan komunikasi, mungkin tidak ada yang berubah. Kita akan tetap makan ini, kita akan tetap makan ini di sini, kita tetap akan makan ini sekarang, tetap akan ada sayur sawi dengan bakso buatanmu, tetap dengan nasi dingin karena toh sayurnya sudah panas, tetap akan ada penghematan gas, dan tetap ada banyak hal lainnya. Komunikasi tak mengubah hal-hal lahir seperti ini. Tapi. Tetapi akan lebih bagus jika sayur ini hasil komunikasi. Akan sangat indah jika kita makan ini di sini dan sekarang sebagai hasil komunikasi. Akan lebih bagus jika kita makan nasi dingin dengan sayur panas untuk menghemat sebagai hasil pembicaraan dan kesepakatan. Akan lebih bagus jika kita makan sayur Sawi dan bakso sebagai hasil pembicaraan. Akan lebih bagus jika kita makan sekarang sebagai hasil komunikasi dan bukan karena satu terseret lainnya. Dan akan lebih bagus jika kita makan di sini karena komunikasi, bukan karena kamu sudah makan di sini lalu aku jadi ikut makan di sini juga.

‘Can, kamu tidak dalam posisi mengharus-haruskan orang untuk menyikapimu. Komunikasi itu bukan cuma, Can’.

Cerita lain.

Aku telepon salah satu anakku. Anakku dan adiknya sedang dalam perjalanan berdua. Aku ingin tahu sampai di mana dia. Tadi sudah tinggal sedikit lagi untuk sampai ke tujuan mereka berdua. Lalu aku menunggu sedikit waktu. Dan aku telepon dia untuk mengetahui mereka dimana.

Tapi gagal. Telepon tidak diangkat setelah bordering sekian waktu. Tak apa. Mungkin mereka masuk ke wilayah yang tidak ada sinyal HP.

Lalu masuk sms ke pesawatku. ‘Ada apa, bi?’, tanyanya. Aku telepon dia.
‘Sampai mana, nak?’. ‘Lha ini sudah sampe’. ‘Jam berapa nyampe?’. ‘Sudah agak tadi sih,.,.’. ‘Nak, akan lebih bagus jika kamu segera menghubungi kami. Bapak dan ibumu menunggu kabarmu. Mungkin kamu tidak sempat karena ada kesibukan lain, tapi kalaupun begitu, smsmu tadi itu seperti tak memahami situasi. Akan lebih bagus jika smsmu tadi sekaligus mengabarkan kondisimu dan meminta maaf karena tidak segera mengirim kabar’, paparku pelan tapi tegas.

‘Nak, komunikasi itu bukan cuma. Kamu boleh menyatakan ketidaksukaanmu pada gaya komunikasi kakak atau adikmu. Mereka –menurutmu- terlalu bertele. Mungkin benar. Tapi jangan banggakan cara singkatmu itu.Singkat itu bagus disbanding cara komunikasi yang bertele-tele. Tetapi cara singkat itu tak bagus disbanding cara komunikasi yang tepat. Jangan banggakan cara pendekmu. Jangan remehkan cara orang lain. Karena kadang kamu harus menggunakan cara orang lain.’, kataku setegas mungkin di telepon.

Lalu aku tanyakan kabarnya, aku tanyakan kondisinya, dan aku tutup setenang mungkin.

‘Maafkan aku, bi’, katanya lewat sms. Aku meyakinkannya bahwa itu bukan hal serius. Aku hanya ingin banyak hal baik untuk kami – untuknya, untuk ku, dan untuk kami-. ‘Aku yakin kamu pintar, nak’, kataku lewat sms. Kami mengaminkan doaku itu.

Komunikasi itu bukan cuma, nak.

Penutup.

Komunikasi itu bukan cuma. Ini nasehat untukku.

----------------------------------------------***-------------------------------------------------------------

Komunikasi itu pake hati..
komunikasi tak harus selalu dengan lisan.. terkadang tulisan dan bahasa tubuh bisa lebih mewakili..
dan terkadang.. ketika hati sudah ada di "frekuensi" yang sama, hati-lah yg mengambil alih komunikasi kami..
komunikasi dari hati ke hati...
seringkali... ketika tangan baru beranjak memegang hp tuk menelepon, tiba2 hp berdering.. nama abi almair di layar hp ...
terkadang.. ketika masih nyari2 nama abi di gtalk , abi dah menyapa duluan..
terkadang.. ketika menginginkan sesuatu dalam hati tanpa terucap, tiba-tiba abi hadir membawa sesuatu..

tidak sekali.. dua kali.. tak bisa bunda bilang itu kebetulan.. tapi menurut kami.. hati kamilah yg telah berkomunikasi satu sama lain, dengan caranya sendiri...

*colek abi sayang ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar