ASI Lancar, Puasa pun Tak Lewat
Bulan Ramadhan telah tiba. Bulan penuh ibadah bagi umat muslim di
dunia. Salah satu ibadah yang wajib dilakukan setiap muslim yang telah
baligh (cukup umur) adalah berpuasa. Nah, bagaimana dengan ibu hamil dan
menyusui?
Puasa Ramadhan hukumnya tetap wajib bagi ibu hamil dan menyusui.
Alhamdulillah, Islam memberikan kelonggaran bagi ibu hamil dan menyusui
untuk tidak berpuasa dengan berpuasa di lain waktu atau membayar fidyah.
Yang pertama, dikembalikan kepada motivasi atau niat. Jika ibu hamil
dan menyusui tidak melakukan ibadah puasa karena mengkhawatirkan
kesehatan dirinya, maka dia menganggap dirinya seperti orang sakit.
Sehingga cara mengganti puasa sama dengan mengganti puasa dikala orang
sakit, yaitu dengan berpuasa di hari lain. Namun, jika mengkhawatirkan
bayinya, dianggap seperti orang tua yang tak punya kemampuan sehingga
cara menggantinya selain membayar puasa-seperti cara orang tua-yaitu
dengan membayar fidyah.
Yang kedua, ibu hamil atau menyusui cukup membayar fidyah saja tanpa
harus berpuasa. Karena keduanya tidak berpuasa bukan karena sakit,
melainkan karena keadaan yang membuatnya tidak mampu puasa. Kasusnya
lebih dekat dengan orang tua yang tidak mampu berpuasa.
Apa dan bagaimana cara membayar Fidyah? Fidyah adalah memberi makan
orang fakir miskin. Satu hari puasa diganti dengan satu kali fidyah.
Ukuran memberi makan adalah sebesar porsi kita makan 3 kali sehari,
yakni sekitar 1 mud atau 600 gram. Jika dirupakan uang, sebesar biaya
kita makan 3 kali sehari.
Ketika memberikan fidyah, ada tata caranya juga. Salah satu yang
harus diingat adalah jangan lupa mengucapkan berita serah terima/ijab
kabul. Misalnya “Saya membayar fidyah kepada saudara, mohon diterima
dengan baik”. Jika meminta orang lain yang menyerahkan maka, “Ibu A
membayar fidyah kepada saudara, mohon diterima dengan baik”.
Nah, bagi ibu menyusui yang ingin berpuasa bagaimana? Selama kondisi
ibu dan bayi sehat, maka diperbolehkan berpuasa. Namun, jika dikuatirkan
terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya kekurangan gizi, produksi
ASI berkurang, sakit, dan lain sebagainya, maka Islam menyarankan untuk
tidak berpuasa.
Manajemen Laktasi Ibu Menyusui Yang Sedang Berpuasa
Dengan perubahan jadwal makan, bukan berarti asupan makanan yang
dikonsumsipun ikut berubah. Yang penting, ibu menyusui tetap makan 3
kali sehari dan secara disiplin mengkonsumsi makanan dengan gizi
berimbang, yaitu dengan komposisi 50% karbohidrat, 30% protein dan
10-20% lemak.
Kemudian, hal-hal berikut dapat dilakukan untuk memastikan bahwa produksi ASI selama ibu berpuasa tetap lancar dan berkualitas:
1. Asupan menu dengan gizi seimbang
Ibu yang sedang menyusui memang membutuhkan tambahan sekitar
700 kalori perhari, 500 kalori diambil dari makanan ibu dan 200 kalori
diambil dari cadangan lemak dalam tubuh ibu. Oleh karena itu, penting
bagi ibu menyusui yang sedang berpuasa untuk tetap mempertahankan pola
makan 3x sehari dengan menu gizi seimbang. Pada saat sahur, ketika
berbuka puasa dan menjelang tidur sesudah shalat tarawih. Makan sahur
akan menghasilkan energi yang berguna untuk aktivitas kita hari itu.
Komposisi makanan dengan gizi berimbang akan menghasilkan sari makanan
yang bagus untuk anak.
2. Perbanyak konsumsi cairan, mulai dari berbuka hingga sahur
Jika bisa minum air putih selama sehari itu sebanyak dua
liter, ditambah dengan jenis cairan lainnya seperti juice buah, teh
manis hangat dan susu. Minum segelas susu setiap sahur bisa mengurangi
ancaman anemia bagi ibu hamil dan menyusui. Anemia adalah berkurangnya
kadar hemoglobin (Hb) dalam darah. Berbuka puasa dengan minum minuman
hangat, akan merangsang kelancaran ASI bagi ibu menyusui.
3. Istirahat yang cukup
Merasa lemas saat berpuasa itu hal yang lumrah, apalagi jika
si ibu baru saja menyusui. Cobalah untuk beristirahatlah sejenak,
apakah dengan cara tidur atau sekadar relaks menenangkan pikiran. Perlu
ibu menyusui ketahui, bahwa semakin sering payudara dihisap oleh bayi,
maka produksi ASI akan semakin banyak. Jadi, bila selama puasa ibu tetap
rajin menyusui, ASI akan tetap lancar.
Ibu Bekerja
Ibu bekerja yang memerah ASI di tempat kerjanya disarankan untuk
tetap melakukan kegiatan memerah ASI seperti biasa dengan tetap
memperhatikan tips-tips seperti yang sudah disebutkan diatas ini.
Kembali berpegang pada prinsip demand and supply, semakin banyak ASI
dikeluarkan maka semakin banyak ASI yang akan diproduksi. Apabila ibu
menyusui yang biasa memerah menghentikan kegiatan memerahnya selama
bulan puasa, maka ASI yang diproduksi dapat berkurang, yang bukan
disebabkan oleh kegiatan berpuasa tetapi karena mengurangi kegiatan
memerah tadi.
Bagaimanapun, mendapatkan ASI adalah hak bayi. Jadi, dahulukan
kepentingan bayi. Untuk ibu yang memiliki bayi di bawah 6 bulan, memang
dianjurkan untuk tidak berpuasa karena bayi sedang dalam tahap ASI
Eksklusif dan belum memperoleh makanan tambahan apapun kecuali ASI.
Selamat menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan dan salam ASI!
Taken from:
http://aimi-asi.org/2008/08/tips-menyusui-ketika-puasa/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar